Jelang UMBN-KP Dan UN-BK, MTsN 2 Kota Kediri Selenggarakan Parenting

Kota Kediri (MTsN 2) – Menuju sukses ujian madrasah berstandar nasional berbasis kertas pensil (UMBN-KP) dan ujian nasional berbasis computer (UN-BK), pagi ini, Ahad (8/4) di masjid al-Azhar MTsN 2 kota Kediri diselenggarakan kegiatan parenting bagi 412 wali murid kelas sembilan yang anaknya akan menghadapi ujian-ujian tersebut diatas dengan nara sumber Gus Reza pengasuh pondok al-Mahrusiah Lirboyo Kediri.

Menurut Masduki, kepala MTsN 2 kota Kediri, tujuan diselenggarakan parenting adalah memberi penguatan kembali kepada para wali murid kelas sembilan tentang polah asuh anak oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga terutama dalam pendidikan.

“Para siswa kelas sembilan tentu membutuhkan dorongan positif supaya mereka lebih bersemangat  belajar dalam menghadapi ujian-ujian akhir mereka. Dalam upaya tersebut dibutuhkan kedekatan para orang tua. Maka melalui kegiatan parenting ini diharapkan para orang tua lebih maksimal perannya dalam polah asuh terhadap anaknya, apalagi anaknya saat ini sedang menghadapi ujian-ujian kelas sembilan. Dengan demikian hubungan secara psikologi diantara mereka tercipta. Para orang tua semangat dalam memberikan dorongan positif terhadap anaknya sesuai keinginan mereka, sementara anak akan terpacu untuk melakukan apa yang diinginkan para orang tua terutama dalam hal belajar.” Paparnya di ruangan kerjanya.

Sementara Gus Reza pengasuh pondok pesantren al-Mahrusiah Lirboyo Kediri Jawa Timur, pemateri kegiatan parenting tersebut mengajak kepada setiap orang tua untuk menjadi orang tua yang sesungguhnya terhadap anaknya, karena menurutnya masih banyak orang tua yang belum bisa mewujudkan dirinya sebagai orang tua yang ideal. Sebagai contoh masih banyak orang tua yang sering melakukan kekerasan mental terhadap anaknya sehingga berdampak perkembangan mental anak kurang bagus, anak sering bersikap ketakutan jika anak menghadapi sesuatu yang dianggap beban dalam hidupnya. Ujian dianggap sebagai masalah besar oleh anak, bahkan daya ketakutan anak terhadap ketidakbisaan ujian melampaui segala-galanya. Dan jika hal itu yang terjadi, maka anak telah melakukan syirik kepada Allah sang pencipta manusia. Selanjutnya dia mengajak para orang tua supaya memiliki cita-cita tinggi terhadap anaknya, para orang tua supaya punya keinginan anaknya akan jadi apa nantinya. Dalam hal tersebut, dia mengambil referensi cerita ibunda imam Ahmad bin Hanbal yang berkeinginan anaknya menjadi ulama besar dan akhirnya Ahmad bin Hanbal menjadi ulama besar seperti keinginan ibunya. (HUMAS/John)