Siswa MTsN 2 Kota Kediri Laksanakan Learning By Doing Di Dataran Tinggi Dieng Dan Jogja

Kota Kediri (MTsN 2) – Semangat ratusan siswa kelas 8 MTsN 2 kota Kediri selama ‘pindah’ tempat belajar ke dataran tinggi Dieng dan Jogja luar biasa. Mereka yang tergabung di studi kenal alam lingkungan (SKAL) dari hari pertama (13/10) hingga hari akhir (16/10) tidak menampakkan wajah kecapekan.

Setelah selesai sholat Safar dan sholat Magrib, dengan menggunakan moda 8 bis mereka berangkat dari madrasah tersebut dan langsung menuju dataran tinggi Dieng yang ada di kabupatan Wonosobo Jawa Tengah. Di dataran tinggi  tersebut siswa mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di tempat tersebut, diantaranya kawah Sinkidan, telaga warna, dan candi Dieng. Dan terakhir sebelum mereka meninggalkan tempat-tempat tersebut pihak pengelolah dataran tinggi Dieng mengajak siswa dan guru nonton bareng (nobar) film tentang sejarah dataran tinggi Dieng.

Setelah puas di dataran tinggi Dieng, destinasi berikutnya adalah Jogjakarta. Namun sebelum mereka mengunjungi tempat-tempat di Jogja tersebut mereka harus beristirahat di hotel Ros-In-Jogja semalam. Dan pukul 08.00 setelah selesai sarapan pagi di hotel tersebut rombongan melanjutkan ke Taman Pintar, Malioboro, benteng Vanderberk, dan terakhir mengunjungi candi Prambanan.

Pukul 17.30 mereka meninggalkan candi Prambanan dan setelah itu langsung pulang ke kota Kediri. Tepat pukul 02.00 dini hari seluruh siswa sampai di MTsN 2 kota Kediri.

PLT Mohammad Nizar merasa puas dengan keberhasilan kegiatan SKAL tahun ini. Kepuasan Nizar karena kegiatan tersebut sesuai dengan skenario madrasah yakni menciptakan refreshing dan pembelajaran teori dan praktik bagi siswa-siswa tersebut yang dikemas studi kenal alam lingkungan (SKAL) di dataran tinggi Dieng dan Jogja. “Inilah yang disebut learning by doing. Siswa kami dalam SKAL ini tidak hanya refreshing belaka, tapi mereka menjadikan kegiatan SKAL menjadi pembelajaran praktik beberapa mata pelajaran diantaranya pelajaran Geografi, Biologi, Kimiah, Bahasa Inggris, Sejarah Indonesia dan sejarah kebudayaan Islam yang sebelumnya sudah diajarkan di kelas secara teori, dan siswa akan merangkum kegiatan tersebut dalam laporan yang akan diserahkan kepada guru mata pelajaran masing-masing”. Tuturnya. (HUMAS)